Mei 18, 2024

SMP NEGERI 3 BABAT

Sekolah Adiwiyata Nasional

Kiriman Penulis Lepas Ahmad Fanani Mosah, SMP N 3 Babat.

Refleksi 1 Muharom 1425 Hijriyah :

MAKNA HIJRAH BAGI SEORANG PEMIMPIN

Oleh : Ahmad Fanani Mosah

(Penulis Adalah Guru SMP Negeri 3 Babat – Lamongan)

JIWA LEADERSHIP !. Itulah slogan singkat yang menjadi dambaan ummat akhir-akhir ini.  Menurut kamus Bahasa Inggris yang disusun oleh Prof.Drs.S.Wojowasito dan WJS Poerwadarminta (penerbit Hasta Jakarta/1974), kata “leadership” dari kata “lead” artinya “memimpin”. Kemudian berubah menjadi kata sifat “leadership” yang diartikan kepemimpinan. Zulkarnain dan G.Surya Alam dalam Kamus Praktis Bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Karya Utama-Surabaya 2000 mengartikan, bahwa memimpin bersinonim dengan membimbing, mengepalai, memandu, melatih agar dapat mengerjakan sendiri.

Proses kaderisasi memang merupakan kebutuhan utama. Mengingat faktor-faktor perkembangan untuk menuju ke arah potensi dan kebesarannya bisa diandalkan sebagai generasi yang multi dimensi. Sebenarnya proses kaderisasi dan pendidikan secara umum sudah diteladankan oleh para tokoh yang bergerak di bidang kepanduan  kita semacam KH.Ahmad Dahlan pendiri gerakan Muhammadiyah.

Percontohan tokoh yang satu ini mentransfer keteladanan junjungan kita Rosululloh Muhammad Saw, yang meliputi : Siddiq, Amanah, Tablegh, Fatonah. Setidak-tidaknya sifat inilah yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Jiwa dan Roh Ketuhanan seyogyanya tertanam pada jiwa mereka dalam menggerakkan organisasi yang diembannya sebagai wadah yang diunggulkan. Perlu disadari, bahwa seseorang mencapai derajat pemimpin tidak langsung bim, salabim, aba gadabra, langsung jadi. Tidak ! Tetapi membutuhkan suatu proses yang panjang, semisal pelatihan, kemampuan berintelegensi, kematangan berfikir, belajar, dsb.

Kegiatan memimpin mengandung seni tersendiri bagi seseorang yang meresapi serta menghayati akan tugas yang digelutinya. Lebih-lebih bagi orang yang mendalami makna dalam berkesenian itu sendiri. Bahkan seolah dalam kehidupan yang terjadi ini bagaikan irama melodi yang bernuansa romantis. Namun hakekat dan inti makna kepemimpinannya tak lepas dari konteks-konteks yang ada. Sebab, seribu satu macam tingkahlaku dan watak anakbuah/ummat yang dipimpinnya.

Di sini pula muncul seribu satu dillema yang harus diatasi oleh seorang atasan dalam memenej lembaga atau organisasinya. Tidak ada jaminan, bahwa suatu keputusan yang diterapkan oleh seorang pimpinan, akan dinikmati oleh anakbuahnya. Dengan beda kata  : cocok bagi si terpimpin yang satu, belum tentu menjadi kepuasan bawahan yang lain. Tetapi bagi orang nomor satu di sebuah unit/instnasi itu, harus pandai-pandai menguping segala kejadian dan nuansa setelah kebijakan dilaksanakan.

Pedoman yang harus dipegang teguh oleh seorang pemimpin antara lain :

  1. Tujuan. Kemana lembaga instistusi dan oraganisasi itu dibawa. Dalam hal ini seorang menejer harus mempunyia visi dan missi yang jelas. Sehingga arah dan tujuan kelompok kerabat kerjanya agar jeluntrung.
  2. Kebutuhan dan Permasalahan. Hasil agenda kuping-menguping dan rasan-rasan yang diformalkan adalah sekian kali dari bentuk “jemput bola”. Sehingga seorang kepala akan lebih dekat dengan anak buah. Keluhan-keluahan dapat tersadap, yang pada akhirnya si bapak dapat membahagiakan sang anak.
  3. 3. Pembinaan. Ini salah satu rencana dan strategi untuk mempertahankan kewibawaan seorang pimpinan. Setidak-tidaknya materi dalam pembinaan itu sendiri mengacu dari hasil evaluasi jerih payah yang dialami oleh mitra kerjanya. Melalui pembinaan juga, sifatnya adalah pembirian motivasi dan bukan memberikan vonis kejelekan.

 

 

  1. Kebersamaan. Antara atasan dan bawahan seyogyanya tidak perlu terjadi. Yang cocok adalah kemitraan. Mitra dalam kerja, mitra dalam rasa, mitra dalam duka, dst. Tanpa adanya rasa kebersamaan, tentu lembaga yang dipimpinnya itu akan mengalami ketimpangan-ketimpangan.
  2. Kesejahteraan. Hal-hal yang urgen dan biasanya menyangkut yang finansiil, juga harus mendapat perhatian lebih bagi seorang pimpinan. TIdak jarang terjadi bentrok diantara mereka (kepala dengan staf, staf dengan sesama staf dsb) gara-gara royokan rejeki. Istilah banyolannya : hujan tidak merata.
  3. 6. Orientasi masa yang akan datang. Jika ada seorang pimpinan yang ingin mengenyam kenikmatan saat itu saja, dengan alasan hasil jerih payahnya, adalah akeliru besar. Kita contohkan : nenek moyang dahulu kala menanam kelapa tidak untuk dinikmati sendiri ketika dia masih hidup, tetapi untuk bisa dinikmati oleh anak cucunya pada masa-masa yang akan dating.

Penilaian kepemimpinan dapat dilihat dari beberapa segi, antara lain : A. Akhlaq (kepribadian & tingkah laku sehari-hari, sekaligus sebagai keteladanan bagi anak buahnya). B. Idealisme (komitmen & integritas pada visi – missi  maupun cita-cita, ideologi mau dibawa kemana dan untuk apa organisasinya). C. Wawasan & Cara Berfikir (keluasan pandangan ilmu pengetahuannya akan mempengaruhi kebijakannya, disini perlunya cakrawala berfikir bagi seorang pemimpin). D. Skill (sikap/ketrampilan yang dimiliki sebagai pendukung kinerjanya, ketegasan dalam berkomando, aba-aba vokal dsb. perlu dikuasai termasuk  sigap, tanggap, tanggon, tangguh, trengginas : lincah, cekatan, gerak yang dinamis ).

Sikap positif edukatif harus digethoktularkan  pada anggota yang lain, sebagai jaringan kedisiplinan (upaya perekrutan massa dan pemilihan kader-kader untuk masa mendatang). Aksi yang actual selayaknya dimunculkan. Opini publik harus dibangun. Kesejahteraan perlu dipikirkan. Semanagat kreatifitas perlu ditampung dan dicarikan wadah, guna disalurkan ke arah yang poisitif.

Betapapun baiknya pola kepemimpinan , bila tidak mendapat respon dari pihak-pihak terkait dari kerabat dan mitra kerja itu sendiri, tidak akan membuahkan sistim keinerja yang baik dan kebinalan para oposan akan menjadi jadi. Di sinilah pentingnya pengawasan & pengendalian. Untuk itu, seorang up-line harus tanggap sasmita terhadap  perobahan yang terjadi pada down-line nya. Dengan demikian secara langsung maupun tak langsung, seorang pimpinan harus segera hijrah : memutar haluan menuju terciptanya keharmonisan dalam bekerja. Yakani bekerja dengan parter dan mitranya. Sehingga dengan demikian satu kolega bisa enak bekerja, biar tidak bekerja se-enaknya !.

 

Pengirim/Penulis : Ahmad Fanani Mosah

( Adalah Guru SMP Negeri 3 Babat-Kab. Lamongan )

Kantor Dinas : SMP Negeri 3 Babat

Jl. Rayagembong – Tilp 451588 – Babat)

 

$#$#$#$#$#$#$#$#$#$#$#$#$#$#$#$#$#$#

@@@@@@@@@@@@*@