Mei 18, 2024

SMP NEGERI 3 BABAT

Sekolah Adiwiyata Nasional

Opini Karya Ahmad Fanani Mosah Masuk Koran/Majalah

Buat Bung Munif, Ini Artikel Untuk SOROT DUTA MINGGU,
Urgensi Apresiasi Seni/Sastra Bagi Pelajar Tingkat SMP/SMA  Setelah Merebaknya Pildacil :
DRAMA SEBAGAI ALAT MENGACU PADA SHOLAT
Oleh : Ahmad Fanani Mosah
(Penulis Adalah Guru, Pengamat, Pegiat, Pekerja & Pelatih Seni-Drama Teater Lamongan)

  1. Pendahuluan.

PEMENTASAN Drama-teater dalam pelaksanaan da’wah islamiyah dinamakan “masroh” dan “malhamah” (rupa-rupanya istilah ini tidak populer). Oleh karenanya sementara kita gunakan saja istilah yang sudah lekat dengan rakyat : “drama-teater”.

Sesungguhnya pertunjukan di atas panggung itu cukup berkesan di hati para pengunjung. Disamping mereka dapat melihat langsung dengan mata kepala sendiri, para audiens terproses untuk menyerap rangsangan audio visual yang dipersembahkan. Lagi pula penampilan orang-orang panggung itu suatu hiburan yang mengasyikkan dan tidak menjemukan.

Penggunaan media dan sarana pementasan drama sebagai alat pendidikan, sangat baik yang pada akhirnya diharapkan membawa hasil yang memuaskan. Dengan catatan asal segala sesuatunya seperti tata pentas, skenario, aktor/aktris, tata busana, team penyelenggara, teknik penyutradaraan dll, betul-betulmenggunakan norma yang berlaku dan bernilai edukasi. Lebih-lebih apresiasi sastra ini sudah diberikan kepada pelajar mulai tingkat SMP/M.Ts hingga SMA/MA dan yang sederajat. Dalam hal ini BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan) memasang materi pembelajaran tentang apresiasi prosa/naskah drama. Di dalamnya juga termuat pengenalan tokoh-tokoh dan karakter seseorang.

Sementara tayangan-tanyangan televisi khususunya pada segmen hiburan yang berbalut keagamaan. Misalnya sinetron-sinetron hikayat yang menggambarkan kuwalatnya seseorang akibat dari perbuatannya, dsb secara positif menggugah semangat berpikir dan perilaku anak agar tidak seperti tokoh antagonis dalam kisah tersebut. Kemudian secara langsung ada stasiun televisi yang menyuguhkan acara pemilihan da’i kecil (Pildacil). Ini terkandung makna terjadinya penanaman mental-mental religius baik buat si pelaku itu sendiri (peserta), yang  dengan kemahiranya (sebagai juru da’wah) bisa direkrut oleh siapa saja yang berminat menanggapnya.  Sedangkan bagi yang lain terbetik adanya nilai-nilai edukasi yang rata-rata penggemarnya adalaha masih tingkat anak-anak dan remaja.

Atas dasar pemikiran dan pandangan tersebut, sudah menjadi keharusan mutlak adanya sekelompok juru da’wah yang peduli terhadap kesenian panggung secara umum (drama-teater, tari, musik, puisi, lawak  dsb) sebagai ajang untuk menyampaikan visi dan missinya. Perkembangan berikutnya bisa dalam bentuk film layar lebar, sinetron atau drama radio dll.

Tujuannya tak lain dan tak bukan adalah agar para hadirin (yang muslim) tetap betah dan krasan dengan keislamannya. Sedangkan yang lain (non muslim) diharapkan bisa tertarik kepada Islam. Di satu sisi agar tidak ada persepsi bahwa di Islam kering dengan kesenian. Tentu pada gilirannya mereka semua komitmen dengan berpegang teguh pada agama Alloh dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam dengan penuh kesadaran dan keikhlasan.

 

  1. Menyiapkan Teater Untuk Da’wah

 

            Mengingat masalah da’wah adalah masalah yang “serba-suci”. Sehingga dapat diidentikkan, bahwa seni secara umum dan teater secara khusus harus yang “serba-suci”. Oleh karena itu ada beberapa hal yang harus dipersiapkan oleh orang-orang yang berkecimpung di bidang  teater/pertunjukan panggung  dalam rangka kepentingan da’wah islamiyah, antara lain :

 

  1. Tema Cerita.

 

Drama/teater sebagai media da’wah islamiyah, tentunya harus memeliki tema/cerita yang kuat untuk menunjang missinya. Termasuk rentetan kejadian (alur cerita) yang akan diangkat menjadi skenario panggung, harus menunjukkan cermin (nafas) keislaman. Begitu pula adegan yang disuguhkan kepada khalayak hadirin harus dikondisikan yang betul-betul islami.

 

  1. Costum/Busana.

 

Aktor/aktris dalam memakai costum panggung, harus sesuai dengan hukum silam, yang bersumber dari al-qur’an Surat An-Nur ayat 31 :

وليضر بن  بحمرهن علي جيو بهن ولا يبدين زينتهن الا لبعولتهن اواباء هن  اواباء بعوليهن او ابناءهن اوابناء بعولتهن اواخوانهن اوبني اخوانهن اونساءهن اوما ملكت ايمانهن اوالتابعين غير اولي الا ربة من الرجال اوالطفل الدين  لم يظهروا علي اورت النساء

(Walyadlribna bikhumurihinna ‘alaa juyubihinna walaayubdiina ziinatahunna illaa libu’ulatihnna au aabaaihinna au baqnii akhowatihinna au nisaaihinna aumaa malakat aimanuhunna awittaabi’iina ghoiri ulill irbati mianarrijaali  awitthiflilladziina lam yadzharuu ‘alaa aurootinnisa’ )

Artinya :  “Dan hendaklah mereka menutupkan kain ke dadanya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya  kecuali kepada suami, ayah, mertua, anak-anak mereka, saudara-saudara mereka, keponakan mereka, wanita islam, budak, pelayan laki-laki yang tidak bernafsu kepada wanita dan anak kecil yang belum mengerti tentang wanita” (An-Nur 31)

 

  1. Sutradara, Pemaian dan Pekerja Teater Lainnya.

 

Seluruh kerabat kerja dan anggota sebuah teater untuk kepentingan da’wah pada hakekatnya adalah seorang da’i. Oleh kerena itu kepadanya dituntut memiliki akhlaq dan kepribadian layaknya seorang mubaligh/da’i. Ia dijadikan suri teladan bagi jamaah yang lain. Selayaknya juga para pemain mendapat godokan kawah condro dimuko bidang perda’ian khususnya dan hukum islam pada umumnya.

 

  1. Penonton.

 

Posisi penonton yang baik adalah sebagaimana susunan barisan atau shof dalam sholat berjama’ah. Kelompok pria dewasa duduk di kursi paling depan.  Urutan kedua adalah kelompok anak-anak pria. Kelompok ketiga adalah anak-anak perempuan. Sedangkan urutan keempat adalah wanita dewasa.

Atau dibuat bersebelahan : yang dibatasi dengan tabir. Sisi kanan penontot pria, sisi kiri penonton wanita atau sebaliknya.

 

  1. Penutup

 

Adapun jika apa yang kita usahakan ini mendapat hambatan, memang namanya manusia yang tidak luput dari khilaf dan salah. Pada dasarnya manusia memang diciptakan dalam keadaan lemah.

 

يريد الله ان يخفف عنكم وخلق النسان ضعيفا

(Yuriidullohu an yukhoffifa ankum wa kholaqol insaanu dlo’iifan)

Artinya: “Alloh hendak memberikan keringanan kepadamu, namun manusia itu diciptakan dalam keadaan lemah tiada berdaya” (Annisa’ 28).

 

Meskipun demikian kita dituntut berusaha semaksimal mungkin sebagai pekerja teater dan pemain drama dalam menyebarkan kalimat li ilaa kalimatillaah, serta menjunjung tinggi ke jalur aswaja (ahlu sunnah wal jama’ah).== (Kiriman Ahmad Fanani Mosah, Penulis Adalah Guru, Pengamat, Pegiat, Pekerja & Pelatih Seni Drama-Teater Lamongan) ==