Mei 18, 2024

SMP NEGERI 3 BABAT

Sekolah Adiwiyata Nasional

DARI ZAMANA BAHULA PAKAI PENTUNGAN & SOROKAN

DARI ZAMANA BAHULA PAKAI PENTUNGAN & SOROKAN
BELAJAR ALA PESANTREN
Oleh : Ahmad Fanani Mosah
(Penulis  Adalah Guru SMP Negeri 3 Babat – Lamongan)  

POTRET buram yang menimpa lembaga pendidikan STM Siang Bojonegoro dengan gagalnya ratusan muridnya yang mengikuti Unas (Ujian Nasional) adalah sekian kali dari korban kebijakan pemerintah yang dipaksakan. Perolehan nilai yang minimal 4,00 dirasakan berat bagi sebagian besar peserta didik yang notabene berasal dari daerah udik.

Karena sudah memberlakukan  otonomi daerah, apa salahnya bila proses belajar-mengajar hingga sampai pada teknik penilaian diserahkan pada otonomi sekolah. Termasuk kriteria pelulusan semestinya juga diserahkan lembaganya masing-masing. Bukankah  pemerintah telah mempropagandakan sistim pembelajaran yang bernama KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi). Yang mana bibit-bibit dasar kemampuan murid bisa dilihat sejak awal, yang harus dan perlu dikembangkan. Dapat dimaklumi bahwa pada hakekatnya dari sistim CBSA  hingga KBK adalah membawa anak didik ke arah keaktifan. Kelihaian membuat aktif murid sudah ada  pada guru/pendidik yang tentu sudah dibekali dengan teknik menggiring murid yang terangkum dalam psikologi  pendidikan.     

GENGSI ! Itulah yang terbersit di benak para pelaku dan atau orang-orang yang terlibat di dunia pendidikan (baca : guru beserta atasan & jalur birokrasinya). Betapa tidak ! Seandainya ada penguasa teritorial (Camat, Bupati, Walikota. Gubernur dst)  atau bahkan kepala kantor/instansi (Cabang Dinas P & K yang ada di tingkat kecamatan hingga propinsi) sekalipun, menanyakan kepada pejabat struktural dan fungsional yang ada di dunia pendidikan, “Apakah sanggup melaksanakan Kurikulum Berbasis Kompetensi ?”.

Maka orang-orang yang terlibat dalam dunia pendidikan itu serentak menjawab : “Sangguuuppp…!!”. Dengan serta merta akhirnya tersosialisasikanlah sistim pembelajaran yang berlabel KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi). Kini para kuli kapur yang dibantu dengan komite sekolah itu berlomba-lomba kampanye dan mengklaim diri, bahwa lembaga pendidikannya menggunakan KBK dalam proses pembelajarannya.

Rentetan berikutnya adalah mengganti total buku-buku pembelajaran yang lama. Dan tampaknya ini adalah alasan klasik dari penerbit beserta sinergi-sinerginya. Sebab semenjak proses pembelajaran ketika menggunakan pendekatan CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) itu, buku-buku LKS (Latihan Kerja Siswa) memang sebagai dosis sekali pakai. Artinya tidak layak diturunkan ke adik-adiknya lagi. Konsekwensi berikutnya, mau tidak mau pihak sekolah harus menanggung beban pengeluaran yang tidak sedikit lagi. Yakni menyediakan seperangkat pembelajaran, lembar penilaian, rapot dan sebagainya yang cara penggarapannya pun sangat menguras energi tenaga dan pikiran.

Padahal aturan main dan kelayakan jumlah siswa dalam satu kelas tidak mengikuti standarisasi.  Ingat, dalam penerimaan murid baru tahun ini 2005/2006 masing-masing sekolah masih berlomba-lomba mengeruk murid sebanyak-banyaknya. Sementara jumlah idealnya kelas KBK adalah berkisar 15 – 20 anak. Guru pengajar dalam satu ruangan itu adalah 2 orang. Guru yang satu menyampaikan materi dan satunya membimbing siswa. Bukankah ini juga tidak menghabiskan anggaran keuangan ?. Sekolah yang besar saja sambat, apalagi sekolah yang mati segan hidup tak mau, alias kembang kempis, dana dari pemerintah atau yayasan sangat seret, uang dari walimurid nggak bisa diwajibkan kedatangannya.

Melihat pemandangan yang amat rumit dan nyaris tidak dapat dilihat hasilnya itu, apakah tidak ada inisiatip lain di dunia pendidikan kita, guna mencari alternatip serta solusi yang efisien dan efektif ? Dalam rangka mencerdaskan anak bangsa ? Bukanakah keberhasilan para senior kita telah diperlihatkan, bagaimana proses belajar-mengajarnya dengan sarana dan prasaran yang amat sangat dibawah sempurna.

Jika jita menoleh kebelakang, betapa gigihnya para guru-guru dan kiyai kita yang dengan sabar menyampaikan ilmu kepada murid-murid dan santrinya. Dengan kedisiplinan yang tinggi dan penuh wibawas, akan melayangkan pentungannya manakala ada muridnya yang membuat ulah. Dimana pecut (cambuk) yang terbikin dari rotan panjang itu akan singgah di tubuh murid/santri yang nakal ketika pelajaran sedang berlangsung. Namun ternyata hal ini tidak membuat sakit hati dan dendam kesumat para anak didiknya. Justru membawa kesuksesan. Begitu pula sebaliknya penghormatan murid kepada gurunya, kala itu boleh dibilang sangat besar sekali. Misalnya jika ada muridnya naik sepeda yang berpapasan dengan gurunya yang sedang berjalan kaki,  maka si murid itu segera cepat-cepat turun. Khawatir kuwalat ya ?!. Lagi, ketika sang guru keberatan menenteng tas bututnya, maka salah beberapa murid dan santrinya berebut membawakan barang bawaan gurunya itu. Ingin mendapat barokah ya ?!.

Bila dibandingkan saat ini : guru tidak boleh menyakiti (memukul fisik) muridnya. Tapi kenyataannya banyak guru yang tersakiti hatinya, lantaran ulah beberapa muridnya yang nakal dan tidak tahu diuntung. Tidak jarang kita dengar adanya murid yang menganiaya gurunya, lantaran murid yang masuk geng itu tidak naik kelas atau tidak lulus ujian. Juga sering kita dengar walimurid yang menuntut atau mendenda guru, gara-gara sang guru itu memukul anaknya. Padahal jeweran dan pukulan guru itu adalah sekian kali dari bentuk kasih sayang guru terhadap muridnya. Sementara upaya pembelaan di jalur hukum terhadap guru, amat sangat minim sekali. Bahkan diacuhkan begitu saja !.

Bila kita tengok dari teknik penyampaiannya, bahwa pelajaran yang hanya menggunakan acuan buku paket atau buku bacaan itu saja dalam kurun waktu sekian kali pertemuan, juga membawa dampak yang positif terhadap penambahan formulasi keilmuan bagi para muridnya. Artinya satu buku itu dihabiskan dalam satu tahun, ditanggung muridnya pasti pinter semua. Setidak-tidaknya pesan-pesan pada materi itu rata-rata tersadap oleh murid yang hanya tekun mendengarkan dan memperhatikan ocehan sang guru.

Perkara pada waktu ulangan atau ujian ada murid yang tidak naik kelas, atau tidak lulus ujian adalah suatu hal yang lumrah. Dengan jiwa besar murid-murid itu mengulangi lagi. Secara tidak langsung, para guru-guru kita sudah melaksanakan shock terapi dalam dunia pendidikan kala itu.

Uniknya lagi paru guru dan kiyai kita senantiasa menggunakan metode/sistim sorokan. Biasanya pemberian ilmu gaya wejangan ini identik dengan proses pembelajaran yang ada di seputar pondok pesantren. Namun apa jeleknya bila kita menerapkan pada situasi dan kondisi tertentu terhadap murid kita yang ada di lembaga pendidikan formal. Setidak-tidaknya sistim penilaian yang kita ambil dengan gaya sorokan (maju secara individual) akan menggugah semangat/motivasi siswa untuk berpacu dengan materi pelajarannya. Dengan cara atau metode semacam ini mereka para siswa akan merasa gengsi bila harus gagal dan gagal lagi. Dengan demikian mereka juga akan terus menerus menambah perbendaharaan ilmunya

Tampaknya ketertarikan pemerintah sekarang, akan temuan-temuan dan kebijakan-kebijakan yang dilakoni oleh para pendahulunya kini akan merebak lagi. Contoh ringannya saja, misalnya : betapa praktisnya format ijazah lengkap berbolak-balik dengan nilai dalam selembar kertas karton. Eh, ternyata 2 tahun terakhir ini pernah dijajal ijazah yang daftar nilainya terpisah. Jelas tidak praktis dan menghamburkan-hamburkan material tentunya. Akhirnya pada periode lulusan tahun sekarang kembali  seperti sediakala lagi. Yakni ijazah dan daftar nilai dalam satu lembar bolak-balik.  (Kiriman : Ahmad Fanani Mosah, Penulis Adalah Guru SMP Negeri 3 Babat – Lamongan)

 

 

Kantor Dinas : SMP Negeri 3 BabatJl. Rayagembong

Tilp (0322) 451588-Babat- Lamongan.

 

Alamat Rumah : Jl. Langgarwakaf 20 – Sawo

Tilp (0322) 451589 – Babat – Lamongan

No Rekening  

 

e-mail: fan-mosah@telkom.net