Sen. Des 6th, 2021

SMP NEGERI 3 BABAT

Sekolah Adiwiyata Nasional

Artikel

Dari Penulis Lepas Ahmad Fanani Mosah (Guru SMPN 3 Babat)

Refleksi 1 Muharom 1425 Hijriyah :

MAKNA HIJRAH BAGI SEORANG PEMIMPIN

Oleh : Ahmad Fanani Mosah

(Penulis Adalah Guru SMP Negeri 3 Babat – Lamongan)

JIWA LEADERSHIP !. Itulah slogan singkat yang menjadi dambaan ummat akhir-akhir ini.  Menurut kamus Bahasa Inggris yang disusun oleh Prof.Drs.S.Wojowasito dan WJS Poerwadarminta (penerbit Hasta Jakarta/1974), kata “leadership” dari kata “lead” artinya “memimpin”. Kemudian berubah menjadi kata sifat “leadership” yang diartikan kepemimpinan. Zulkarnain dan G.Surya Alam dalam Kamus Praktis Bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Karya Utama-Surabaya 2000 mengartikan, bahwa memimpin bersinonim dengan membimbing, mengepalai, memandu, melatih agar dapat mengerjakan sendiri.

Proses kaderisasi memang merupakan kebutuhan utama. Mengingat faktor-faktor perkembangan untuk menuju ke arah potensi dan kebesarannya bisa diandalkan sebagai generasi yang multi dimensi. Sebenarnya proses kaderisasi dan pendidikan secara umum sudah diteladankan oleh para tokoh yang bergerak di bidang kepanduan  kita semacam KH.Ahmad Dahlan pendiri gerakan Muhammadiyah.

Percontohan tokoh yang satu ini mentransfer keteladanan junjungan kita Rosululloh Muhammad Saw, yang meliputi : Siddiq, Amanah, Tablegh, Fatonah. Setidak-tidaknya sifat inilah yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Jiwa dan Roh Ketuhanan seyogyanya tertanam pada jiwa mereka dalam menggerakkan organisasi yang diembannya sebagai wadah yang diunggulkan. Perlu disadari, bahwa seseorang mencapai derajat pemimpin tidak langsung bim, salabim, aba gadabra, langsung jadi. Tidak ! Tetapi membutuhkan suatu proses yang panjang, semisal pelatihan, kemampuan berintelegensi, kematangan berfikir, belajar, dsb.

Kegiatan memimpin mengandung seni tersendiri bagi seseorang yang meresapi serta menghayati akan tugas yang digelutinya. Lebih-lebih bagi orang yang mendalami makna dalam berkesenian itu sendiri. Bahkan seolah dalam kehidupan yang terjadi ini bagaikan irama melodi yang bernuansa romantis. Namun hakekat dan inti makna kepemimpinannya tak lepas dari konteks-konteks yang ada. Sebab, seribu satu macam tingkahlaku dan watak anakbuah/ummat yang dipimpinnya.

Di sini pula muncul seribu satu dillema yang harus diatasi oleh seorang atasan dalam memenej lembaga atau organisasinya. Tidak ada jaminan, bahwa suatu keputusan yang diterapkan oleh seorang pimpinan, akan dinikmati oleh anakbuahnya. Dengan beda kata  : cocok bagi si terpimpin yang satu, belum tentu menjadi kepuasan bawahan yang lain. Tetapi bagi orang nomor satu di sebuah unit/instnasi itu, harus pandai-pandai menguping segala kejadian dan nuansa setelah kebijakan dilaksanakan.

Pedoman yang harus dipegang teguh oleh seorang pemimpin antara lain :

  1. Tujuan. Kemana lembaga instistusi dan oraganisasi itu dibawa. Dalam hal ini seorang menejer harus mempunyia visi dan missi yang jelas. Sehingga arah dan tujuan kelompok kerabat kerjanya agar jeluntrung.
  2. Kebutuhan dan Permasalahan. Hasil agenda kuping-menguping dan rasan-rasan yang diformalkan adalah sekian kali dari bentuk “jemput bola”. Sehingga seorang kepala akan lebih dekat dengan anak buah. Keluhan-keluahan dapat tersadap, yang pada akhirnya si bapak dapat membahagiakan sang anak.
  3. 3. Pembinaan. Ini salah satu rencana dan strategi untuk mempertahankan kewibawaan seorang pimpinan. Setidak-tidaknya materi dalam pembinaan itu sendiri mengacu dari hasil evaluasi jerih payah yang dialami oleh mitra kerjanya. Melalui pembinaan juga, sifatnya adalah pembirian motivasi dan bukan memberikan vonis kejelekan.
  1. Kebersamaan. Antara atasan dan bawahan seyogyanya tidak perlu terjadi. Yang cocok adalah kemitraan. Mitra dalam kerja, mitra dalam rasa, mitra dalam duka, dst. Tanpa adanya rasa kebersamaan, tentu lembaga yang dipimpinnya itu akan mengalami ketimpangan-ketimpangan.
  2. Kesejahteraan. Hal-hal yang urgen dan biasanya menyangkut yang finansiil, juga harus mendapat perhatian lebih bagi seorang pimpinan. TIdak jarang terjadi bentrok diantara mereka (kepala dengan staf, staf dengan sesama staf dsb) gara-gara royokan rejeki. Istilah banyolannya : hujan tidak merata.
  3. 6. Orientasi masa yang akan datang. Jika ada seorang pimpinan yang ingin mengenyam kenikmatan saat itu saja, dengan alasan hasil jerih payahnya, adalah akeliru besar. Kita contohkan : nenek moyang dahulu kala menanam kelapa tidak untuk dinikmati sendiri ketika dia masih hidup, tetapi untuk bisa dinikmati oleh anak cucunya pada masa-masa yang akan dating.

Penilaian kepemimpinan dapat dilihat dari beberapa segi, antara lain : A. Akhlaq (kepribadian & tingkah laku sehari-hari, sekaligus sebagai keteladanan bagi anak buahnya). B. Idealisme (komitmen & integritas pada visi – missi  maupun cita-cita, ideologi mau dibawa kemana dan untuk apa organisasinya). C. Wawasan & Cara Berfikir (keluasan pandangan ilmu pengetahuannya akan mempengaruhi kebijakannya, disini perlunya cakrawala berfikir bagi seorang pemimpin). D. Skill (sikap/ketrampilan yang dimiliki sebagai pendukung kinerjanya, ketegasan dalam berkomando, aba-aba vokal dsb. perlu dikuasai termasuk  sigap, tanggap, tanggon, tangguh, trengginas : lincah, cekatan, gerak yang dinamis ).

Sikap positif edukatif harus digethoktularkan  pada anggota yang lain, sebagai jaringan kedisiplinan (upaya perekrutan massa dan pemilihan kader-kader untuk masa mendatang). Aksi yang actual selayaknya dimunculkan. Opini publik harus dibangun. Kesejahteraan perlu dipikirkan. Semanagat kreatifitas perlu ditampung dan dicarikan wadah, guna disalurkan ke arah yang poisitif.

Betapapun baiknya pola kepemimpinan , bila tidak mendapat respon dari pihak-pihak terkait dari kerabat dan mitra kerja itu sendiri, tidak akan membuahkan sistim keinerja yang baik dan kebinalan para oposan akan menjadi jadi. Di sinilah pentingnya pengawasan & pengendalian. Untuk itu, seorang up-line harus tanggap sasmita terhadap  perobahan yang terjadi pada down-line nya. Dengan demikian secara langsung maupun tak langsung, seorang pimpinan harus segera hijrah : memutar haluan menuju terciptanya keharmonisan dalam bekerja. Yakani bekerja dengan parter dan mitranya. Sehingga dengan demikian satu kolega bisa enak bekerja, biar tidak bekerja se-enaknya !.

Pengirim/Penulis : Ahmad Fanani Mosah

( Adalah Guru SMP Negeri 3 Babat-Kab. Lamongan )

Kantor Dinas : SMP Negeri 3 Babat

Jl. Rayagembong – Tilp 451588 – Babat)

ARTIKEL PENULIS FREELANCE AHMAD FANANI MOSAH

HUMOR, SEKALI DIRASA TETAP DISUKA

Oleh  : Ahmad Fanani Mosah

(Entertainer Panggung & Guru SMP Negeri 3 Babat-Lamongan)

KEHIDUPAN DUNIA Ini ada-ada saja. Hingga yang aneh dan nyeleneh pun diperingati. Betapa tidak ! Pada bulan Mei kemarin, ada sebuah gagasan yang termaktub sebagai Bulan Tertawa Se Dunia.

Tertawa adalah sekian kali dari wujud penampakan/ekspresi sikap adanya rasa bahagia dan gembira yang keluar dari seseorang setelah orang itu menangkap sinyal kelucuan, kejenakaan, atau hal-hal yang berbau humor.

Kata “Humor” ditilik dari segi biologis adalah cairan/zat setengah cair di dalam tubuh. Para ahli psikologi mengaitkan, bahwa jika seseorang kelebihan suatu zat yang cair di dalam tubuh itu, maka dia akan menjadi periang. Sebaliknya bila jumlah zat tertentu dalam tubuh itu berkurang, si pemiliknya menjadi pemurung, nervous, sedih dsb. Kaitan tersebut sangat sinkron sekali dengan pengertian “Humor” menurut kamus John M. Echols & Hassan Shadily, bahwa sens of humor itu adanya kemampuan untuk melihat dari segi kejenakaan suatu kehidupan. Berarti orang yang punya perasaan dan sikap terhadap humor, dapat menghargai kejenakaan atau sebuah kelucuan.

Tidak semua orang mempunyai perasaan sens of humor dengan baik. Namun jika orang tersebut sering kontak dengan lingkungan sosial dan mau mencermati, menganalisa, minimal berenungria  tentang suatu peristiwa yang terjadi di sekelilingnya, maka pada benaknya  sudah mulai berproses. Minimal adanya ketertarikan terhadap suatu kasus tersebut.

Tak heran jika sebuah entertainment panggung menghibur audiennya dengan menampilkan team pengocok perut yang menghadirkan badut-badut si penjenaka, lawak-lawak yang bikin penonton terbahak-bahak, para pendagel yang bikin orang tertawa terpingkel-pingkel, dan para humoris yang lucunya nggak habis-habis.

Tak salah, ketika salah seorang asal India, Madan Kataria mempelopori berdirinya sebuah organisasi Klub Tawa pada 13 Maret 1995 di kota Bombay-India. Pertama kali rekruitment anggota hanya 5 (lima) gelintir manusia. Kini sudah ada 800 cabang klub tawa yang tersebar di seluruh bumi dunia, diantaranya : Amerika Serikat, Autralia, Jerman, Swedia, Norwegia, Denmark, Itali, Singapura, dll.

Bahkan karena betapa pentingnya suatu kegiatan di bidang ke “tertawa” an, sehingga negara/kota punya inisiatif sendiri dalam mengagendakan klub cekakak-cekikik itu. Janthygesen Poulsen, misalnya, pemuda asal Copenhagen pada tanggal 9 Januari 2000 berhasil mengumpulkan sekitar 10.000 orang untuk tertawa bersama.

Karena pertimbangan cuaca yang tidak mengijinkan (di beberapa belahan dunia terjadi musim dingin yang mencekam), akhirnya Klub Tawa Internasional sepakat bahwa Hari Tawa Se-dunia (WLD = World  Laughter Day) dijatuhkan pada Minggu Pertama bulan Mei.

Di Berlin, Jerman ada sekitar 4000 orang berkumpul untuk merayakan hari tawa itu. Sedangkan di New York, Amerika Serikat hadir 2000 orang dari segala umur, ras dan suku bangsa untuk meramaikan hari berbahak-bahakria itu. Sementara di Copenhagen, Denmark tepatnya di Town Hall Square tersulap menjadi lautan manusia. Bayangkan tidak lebih  dari 5000 orang tumplek-bleg memadati gedung dan halaman bergengsi itu hanya untuk melepas kepenatan dan stres dengan tertawa bersama-sama.

Secara fisik dan psikhis, tertawa itu sehat apabila porsinya tidak berlebihan. Syaraf dan otot-otot yang ada di seputar pipi dan mulut akan telatih elisitasnya. Garis-garis keramahan akan nampak. Sementara kerut-kerut pertanda menuju penuaan dini akan terhindari. Aliran kortisol (hormon stres dan ketegangan) akan terhambat. Sehingga tekanan darah yang akan meningkat bisa diredam saat itu juga.

Maka tak salah juga bila tema-tema yang bernada guyonan tetap diminati orang. Rubrik-rubrik yang ada dalam suratkabar, majalah, tabloid dll tidak boleh tidak pasti memajang bahan bacaan yang banyak digandrungi itu. Tyangan-tayangan layar kaca dan layar lebarpun  akan menyorot ulah yang bikin orang ber hahak – hihik itu.

Tengok saja misalnya tatkala jaya-jayanya TVRI Surabaya melalui program hiburan Galarama.  Sesuai dengan tajuknya, Galarama (Gabungan Lawak dan Irama), sengaja dikemas agar pemirsa tidak spaneng menikmati alunan nada yang bernuansa jazz, sebagai ciri khas TVRI Stasiun Surabaya di era 1980-an.

Hal ini serupa dengan yang dilakoni koordinator artis Safari, Edy Sud. Dalam tahun yang sama TVRI Jakarta punya andalan Aneka Ria Safari. Yang menampilkan Artis-artis musik dan vokalis papan atas. Ternyata di sela-sela acaranya juga disuguhkan tampilnya komedian-komedian yang sedang naik daun kala itu.

Semua itu bertujuan untuk menghilangkan kejenuhan penonton akan sebuah pertunjukan. Disamping itu sebagai bagian dari variasi panggung, agar tidak monoton dengan pertunjukan musik dan lagu-lagu yang sudah akrab di telinga kita. Bahkan dalam rangka mengangkat status kelompok tertentu di bidang lawak-melawak dengan tampilan yang kocak-mengkocak, beberapa menejer/team produksi entertainer sengaja menyuguhkan pembanyol-pembanyol andalannya.

TV Indosiar, sebagai pendahulu yang rutin mengontrak pabrik tawa Srimulat. Kemudian berkembang menelorkan sajian ketoprak humor, ludruk humor dari berbagai macam  group dan produksi. Lalu stasiun-stasiun TV yang masih eksis dengan “guyonan” nya,  semisal Trans TV yang sukses dengan Ekstra Vaganza, SCTV dengan Spontan, TV-7 dengan Warung Pojok, TVRI Surabaya dan JTV dengan Kartolo dan Sidiq Cs, dll.

Mengenal Komedian Dunia

Sesungguhnya bila kita melihat sajia-sajian yang bernuansa komedi saat ini tidak terlepas dari tokoh-tokoh badut yang pernah jaya di jamannya. Simak saja, tahun 1889 – 1977 Charlie Chaplin sudah memulai debutnya sebagai pengocok perut di blantika badut panggung pada usia 8 tahun di kota kelahirannya, Kennington, London, Inggris. Tahun 1914 Chaplin mengembangkan karirnya ke Hollywood, Amerika Serikat. Setahun di Amerika sudah berhasil membintangi 36 film komedi. Meski saat itu sosok yang tampil dengan kumis kecil di bawah hidung (lalu dicontoh pelawak Jojon) dan tongkat rotan itu dishoot untuk film bisu, namun penonton sudah bisa memahami arti tingkah polahnya.

Lain Charlie Chaplin, lain pula Coco si badut (1900-1974). Coco dilahirkan di sebuah panggung. Pada usia 5 tahun sudah mulai mencari nafkah sendiri dengan menyanyi dan menari di senuah club pertunjukan. Tahun 1914 – 1918 Coco berdinas di angkatan darat Rusia. Setelah perang dunia berakhir, ia tampil dalam sebuah group sirkus. Peranannya adalah sebagai badut lengkap dengan hidung merah besarnya yang dipadu dengan pakaian yang kedodoran, sebagaimana yang kita lihat badut-badut diseputar kita. (Kiriman : Ahmad Fanani Mosah, Entertainer Panggung & Guru SMP Negeri 3 Babat – Lamongan).

Alamat Kantor : SMP Negeri 3 Babat, Jl. Rayagembong tilp (0322) 451588 Babat-Lamongan.Alamat Rumah : Jl. Langgarwakaf 20 Sawo Tilp (0322) 451589 Babat – Lamongan.

No Rekening : 0532001244 (Bank Jatim/Bank Pembangunan daerah) Capem Babat,  Atas Nama Ahmad Fanani, )

Mr. Bean               Charlie Chaplin                  Coco

AHMAD FANANI MOSAH :

Karya-karya jurnalistiknya (Opini, Sasbud, Cerpen, Puisi, Reportase dll)  sering muncul di mediacetak (Kompas, Surya, Jawapos, Bhirawa, Radar Minggu News, Duta, Tabloid Faktor, Lentera, Majalah MPA, Widya, Buser, Fakta, dll. )Kini presenter panggung berzodiac Virgoboy itu sedang menyelesaikan Ensiklopedia Tanah Air (ENSTAIN) yang kerjabareng dengan penerbitan Ibukota Jakarta. Maklum sosok guru yang aktif di bidang kepenyairan  dan sekalugus  sutradara drama-teater ini mantan redaktur sebuah tabloid. Meski tidak  meninggalkan jam dinasnya sebagai guru SMP Negeri 3 Babat,  pria kelahiran pantura Lamongan ini juga berprofesi  sebagai MC(presenter panggung entertainment).